suporter

Sabtu, 10 Mei 2008

Kita Rindu Dunia Kagum pada Indonesia

Subtemanya menolak liberalisasi institusi pendidikan dengan tema besar Kongres Kepemimpinan Pemuda "Persembahan Yogyakarta untuk Indonesia". Diadakan oleh Dewan Mahasiswa Justicia Fakultas Hukum UGM. Berlangsung di Boulevard UGM, malam hari, 3 Mei 2008 bermomentumkan hari Pendidikan Nasional yang jatuh tanggal 2 Mei. Ada orasi dari pelajar dan mahasiswa. Ada juga happening art. Tetapi acara itu menjadi istimewa dan lebih berperspektif lantaran dihadiri oleh Cak Nun.

Didampingi dua pembicara yakni Revitriyoso Husodo dari Institute for Global Justice Jakarta dan Dian Yanuardy dari Penerbit Resist Book Yogyakarta, Cak Nun tampil sebagai pembicara terakhir. Jika dua pembicara sebelumnya mengulas globalisasi dan dampaknya pada pendidikan, Cak Nun mengajak para mahasiswa yang rata-rata kelahiran akhir tahun 80-an ini untuk berpikir jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. "Termasuk harus ada perhitungan terhadap diri Anda sendiri. Nanti kalau Anda sudah lulus kuliah, kemudian mencari pekerjaan, berkeluarga, punya anak, dan mungkin akan menjadi PD 2 misalnya, apakah Anda masih akan berkata seperti ini," tambah Cak Nun.

Lebih lanjut diuraikannya, "Saya juga mengawal mahasiswa tahun 70-an, bahkan ketika saya belum jadi mahasiswa, tapi saya sudah bekerja sebagai wartawan. Saya lahir dari era yang penuh cita-cita tentang Indonesia. Saya bayangkan 20 tahun setelah itu pendidikan kita gratis. Lha kok malah malam ini kita terjebak pada situasi yang lebih parah. Kita ini bukan negara berkembang, kita negara melorot."

Namun Cak Nun tetap tak henti-hentinya memompakan semangat, "Malam ini yang saya pujikan dan doakan adalah, e di tengah zaman yang kayak gini, Anda masih punya cita-cita. Dua puluh tahun mendatang Indonesia akan dikagumi dunia. Percayalah, percayalah, supaya Tuhan pekewuh. Kalau Anda sendiri tidak percaya, nanti Tuhan bilang, wong arek-arek dewe ra percoyo. Keluarkan dari pranamu, supaya alam bekerja. Nanti kita cari argumentasi-argumentasinya dari berbagai disiplin."

Kembali ke soal pendidikan, Cak Nun mengajak para generasi muda yang memenuhi bagian selatan Boulevard UGM itu, ada yang duduk, ada yang berdiri di pinggir jalan tetapi penuh perhatian, pun juga ada yang dari dalam mobil tetapi tetap juga dengan penuh simak, untuk berpikir lebih komprehensif.

Kita Rindu Dunia Kagum pada Indonesia"Kita harus paham liberalisasi tak hanya terjadi pada skala UGM, lokal, nasional, tapi kita juga harus tahu asal-usul globalnya.... Hal sekolah gratis, kita tidak boleh hanya minta, tapi juga harus menghitung keuangan rumah tangga Indonesisa... sehingga kita tak hanya melakukan kegiatan yang progresif-politik, tapi juga ilmiah. Sekarang ini pokoknya ingin-ingin, tanpa konsideran ilmu. Liberalisasi pendidikan ini ada karena kita nggak punya duit, sementara keperluan macam-macam. Juga karena ada ketidak adilan dalam pembagian dana. Keuangan negara harus dibenahi. Kita juga tidak benar dalam mengelola aset-aset alam kita. Jadi, untuk tercapainya pendidikan gratis yang merupakan social service atau public service, harus ada pemerintah yang berani mengajak rakyatnya untuk mandiri. Kita butuh unsur Soekarno dan Soedirman, juga Ahmadinedjad dan Morales, untuk merebut Indonesia dari kekuasaan global," papar Cak Nun.

Karena itulah, memproyeksi ke skala lebih luas dan mendasar, Cak Nun mengajak para mahasiswa untuk juga mengenal siapa dirinya, siapa bangsanya, yang dalam pandangan Cak Nun kita semua ini adalah bangsa yang besar tetapi sedang diempritkan atau dikerdilkan. "Harus ada anak muda yang bercita-cita. Namun cita-cita ini mustahil terwujud tanpa ada kebangunan bangsa. Kita merindukan Indonesia dikagumi dunia. Kita sekarang tidak ditakuti siapa-siapa. Tolong acara ini dipakai untuk bercita-cita jangka panjang. Liberalisasi ini bukan soal setahun dua tahun, tetapi panjang....", tutur Cak Nun. []
from www.padhangmbulan.com

Tidak ada komentar: