suporter

Rabu, 27 Agustus 2008

ISTRIKU SERIBU

membaca buku istriku seribu berulang - ulang tidak membuatku bosan. palagi di halaman 49. kalau rekan mau ikut membaca berikut adalah soft copynya.

MALAM KEMERDEKAAN DI ALEXANDRIA

Pada suatu malam di Alexandria alias Iskandariyah, bersama kiai kanjeng aku bertamu kemasjid Imam Busyiri, pencipta syair – syair budah dan shalawat shalwat yang rata – rata umat Islam Tradisional bisa melagukannya, sekedar mengetahui atau pernah mendengarnya.
Seorang syehk membukakan pintugerbang masjid, mempersilahkan kami tidak dengan kalimat kebudayaan atau sopan santun sosial. Sambil membuka pintu beliau melantunkan lagu “Annabi Shollu’aalaih Shalawatullah ‘Alaih, wayanalul barokah, kullu man sholla’alaih…”

Tangannya melambai – lambai mempersilahkan kami memasuki gerbang satu persatu. Tidak ada kata :silahkan masuk,atau dari mana anda sekalian. Ataupun kalimat budaya yang lainnya. Hanya shalawat beliau lagukan dengan sangat indah,serak, tua, dengan vibrasi khas mesir utara.
Aliran darahku bergerak lebih cepat, suhu badanku naik. Begitu juga kami semua. Berduyun duyun kami semua memasuki masjid, mengarah kemakam Syeh Imam Busyiri. Shalawat tak henti beliau lantunkan, dan ditengah – tengah itu rasa “gatal” menyergap hatiku. Begitu Syekh selesai satu bait, aku teriak melantunkan syair lagu itu dan serempak teman – teman KiaiKanjeng juga melantunkannya.
Syekh agak kaget teryata kami bisa melantukan syair dengan lagu yang sama. Bukan sekedar mengetahui atau pernah mendengarnya. Beliau lantunkan refrain, kami koor. Berganti syair lagi, kami juga tetap mengejarnya. Hingga sekitar 5 lagu syair cinta rasulullah kami lantunkan.
Lantunan trus berlangsung dan tetap tanpa kalimat basa – basi apapun. Pada suatu bagian lagu, aku lihat syekh melantunkan dengan sedikit memukul – mukul meja. Maka aku spontan berbisik kepadanya “ Apa boleh menabh rebana?
Spontan beliau menjawab “Qalilan. Qalilan….” Sedikit, sedikit jangan keras keras. Aku langsung kasih kode kepada Rahmat dan Irfan untuk mengambil rebana – rebana kami di bus. Beberapa menit kemudianmasing masing dari kami menabuh rebana, dan akhirnya malam menjadi begitu tak tertandingi indahnya bagi kami : pesta cinta kepada Allah dan Rasulullah meneriakkan sahalawat, membunyikan terbang – terbang kerinduan, rebana – rebana kemesraan.
Hatiku berkata : “ wahai manusia, ambillah dunia ini, jilatilah sepuasmu, telanlah uang korupmu, kekuasan karier serakahmu, harta benda curian kapitalisme maniakmu, kemasyuran tanpa tanpa martabatmu, jabatan yang mencampakkanmu setelah beberapa waktu, jam – jam tayang kekonyolan dangkalmu, apapun saja yang diarakusi oleh hati kalian. Ambil. Ambil telah kudapatkan kenikmatan yang satu baris syairnya tidak kuizinkan kalian ganti dengan jumlah uang berpapun dari hasil korupsimu yang jumlahnya bisa dipakai untuk mendirikan negara baru……”
Seusai berpesta, Syekh memeluk Islamiyanto, slahsatu pelatun Shalawat KiaiKanjeng, samapai hampir lima menit. Mereka dan kami menangis. Dan sampai ketika kami berpamitan, kami tidak bertanya atau saling mencatat nama kami, negara asal kami, alamat atau nomer HP kami masing – masing. Tidak perlu nama – nama itu, asal usul itu. Yang perlu adalah sedu sedan itu.

1 komentar:

kartu mengatakan...

MasyaAllah....dekatkan hati kami bersama orang2 yang mencintai kekasihmu Ya Allah, mengharap keridhoan Engkau .